Buat sebagian orang, pernikahan itu soal cinta.
Buat yang lain, soal komitmen.
Tapi di balik semua itu, agama memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan penuh makna.
Walaupun caranya beda-beda, setiap agama di Indonesia sepakat kalau pernikahan itu bukan main-main, bukan cuma soal “udah cocok” tapi juga soal tanggung jawab seumur hidup.
Yuk, kita bahas satu per satu ?
1. Pernikahan Menurut Agama Islam
Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah. Jadi bukan cuma sah di mata negara, tapi juga bernilai pahala.
Makna Pernikahan dalam Islam:
- Ibadah kepada Allah
- Menjaga diri dari hal-hal yang dilarang
- Membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah
- Komitmen lahir dan batin
Kutipan Al-Qur’an:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya…”
(QS. Ar-Rum: 21)
Intinya: menikah itu bukan cuma halal, tapi juga jalan menuju ketenangan hidup.
2. Pernikahan Menurut Agama Kristen Protestan
Dalam Kristen, pernikahan adalah perjanjian kudus yang melibatkan Tuhan sebagai saksi utama.
Makna Pernikahan dalam Kristen:
- Ikatan seumur hidup
- Dilandasi kasih dan kesetiaan
- Saling melayani dan mengasihi
- Bukan hubungan coba-coba
Kutipan Alkitab:
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
(Kejadian 2:24)
Pernikahan bukan cuma soal cinta, tapi soal bertahan dan bertumbuh bersama.
3. Pernikahan Menurut Agama Katolik
Di Katolik, pernikahan itu sakramen. Artinya: suci, kudus, dan tidak bisa diputuskan sembarangan.
Makna Pernikahan dalam Katolik:
- Ikatan seumur hidup
- Setia dalam suka dan duka
- Terbuka terhadap kehadiran anak
- Tidak mengenal perceraian
Kutipan Alkitab:
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
(Matius 19:6)
Makanya, pernikahan Katolik sangat menekankan komitmen total.
4. Pernikahan Menurut Agama Hindu
Dalam Hindu, pernikahan disebut Vivaha Samskara, salah satu ritual paling penting dalam hidup manusia.
Makna Pernikahan dalam Hindu:
- Kewajiban suci (dharma)
- Menyatukan dua keluarga
- Jalan mencapai kebahagiaan lahir batin
- Pendamping hidup dalam semua fase kehidupan
Kutipan Kitab Weda:
“Aku menerimamu sebagai pasangan hidupku, agar kita bersama-sama menjalankan dharma.”
(Rg Veda X.85)
Pernikahan bukan cuma cinta, tapi juga perjalanan spiritual bersama.
5. Pernikahan Menurut Agama Buddha
Dalam Buddha, pernikahan bukan ritual wajib agama, tapi tetap dihormati sebagai komitmen moral.
Makna Pernikahan dalam Buddha:
- Kesepakatan hidup bersama secara sadar
- Saling menghormati dan tidak menyakiti
- Mengurangi penderitaan
- Hidup selaras dan penuh kasih
Kutipan Ajaran Buddha:
“Suami istri yang saling menghormati akan hidup bahagia dan harmonis.”
(Sigalovada Sutta)
Fokusnya bukan seremoni, tapi kesadaran dan etika dalam hubungan.
6. Pernikahan Menurut Agama Konghucu
Dalam Konghucu, pernikahan adalah dasar utama pembentukan keluarga dan masyarakat.
Makna Pernikahan dalam Konghucu:
- Penyatuan dua keluarga besar
- Menjaga keharmonisan
- Melanjutkan keturunan
- Bentuk bakti kepada orang tua dan leluhur
Kutipan Kitab Konghucu:
“Perkawinan adalah dasar dari hubungan manusia.”
(Kitab Li Ji / Kitab Kesusilaan)
Kalau keluarga kuat, masyarakat juga ikut kuat.
Kesimpulan
Walaupun beda agama dan tradisi, semua sepakat bahwa pernikahan itu sakral:
- Bukan sekadar cinta
- Bukan cuma status
- Tapi komitmen, tanggung jawab, dan perjalanan hidup bersama
Buat Gen Z, menikah bukan soal cepat-cepat, tapi soal siap secara mental, spiritual, dan emosional.